Ringkasan Berita:

  • Pemkab Bangka Selatan menggelar Rakor percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mematangkan persiapan teknis pelaksanaan, dihadiri Forkopimda, OPD, camat, serta BGN Babel.
  • Pj. Sekda Hefi Nuranda menegaskan komitmen daerah menyiapkan kebutuhan MBG, termasuk tiga lahan dapur awal, serta mendorong pemanfaatan bahan baku lokal untuk ekonomi masyarakat.
  • Target MBG di Bangka Selatan mencapai 46.503 penerima dengan rencana pembangunan 20 dapur di seluruh kecamatan, dipaparkan bersama BGN Babel dalam sesi diskusi teknis.

SUARABAHANA.COM – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis memastikan pelaksanaan program nasional tersebut berjalan optimal pada 2025.

Rakor berlangsung di Ruang Rapat Gunung Namak, Selasa (2/9/2025), dan dibuka oleh Bupati Bangka Selatan melalui Penjabat Sekretaris Daerah, Hefi Nuranda, S.T., M.M. Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda, para asisten, staf ahli, kepala OPD, instansi vertikal, camat se-Bangka Selatan, serta Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nyayu Kurnia Ramadhini, bersama tim.

Sumber foto: Pemkab Bangka Selatan.
Sumber foto: Pemkab Bangka Selatan.

Dalam sambutannya, Pj. Sekda Hefi menekankan bahwa rakor ini menjadi momentum penting untuk menuntaskan persiapan teknis sebelum program MBG dijalankan. Ia menyebutkan bahwa komitmen pemerintah daerah sudah ditunjukkan melalui penyiapan tiga lokasi lahan dapur awal di Kecamatan Toboali, Desa Air Gegas, serta Desa Payung. Ketiga lokasi tersebut diharapkan dapat menjadi titik awal proses penyediaan makanan bergizi yang terstandar.

Menurut Hefi, pemerintah daerah melalui OPD terkait akan memperkuat koordinasi dan memastikan setiap kebutuhan teknis dipersiapkan secara matang. Ia menegaskan bahwa tujuan utama MBG bukan hanya pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan bahan baku lokal. Dengan demikian, program dapat berjalan berkelanjutan, bermanfaat bagi petani serta pelaku UMKM, dan tidak memicu gejolak inflasi di Bangka Selatan.

Hefi juga meminta dukungan penuh dari Badan Gizi Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung agar pendampingan teknis dapat dilakukan secara menyeluruh. Pendampingan tersebut dinilai penting agar pelaksanaan MBG di setiap kecamatan dapat berjalan lancar, baik dari aspek standar gizi, keamanan pangan, maupun tata kelola penyediaan makanan.

Usai sambutan pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan paparan teknis dari Kepala Regional BGN Babel, Nyayu Kurnia Ramadhini. Paparan tersebut meliputi standar gizi menu harian, pembangunan dapur MBG, tata kelola distribusi makanan, hingga mekanisme monitoring dan evaluasi. Sesi diskusi dan tanya jawab kemudian dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan dari camat, kepala OPD, dan instansi terkait mengenai pengelolaan dapur, data penerima, dan kesiapan infrastruktur.

Berdasarkan data terbaru, Program MBG di Kabupaten Bangka Selatan menargetkan 46.503 penerima yang tersebar di delapan kecamatan. Rinciannya meliputi Toboali sebanyak 18.793 penerima, Lepar 1.820 penerima, Air Gegas 8.942 penerima, Simpang Rimba 5.710 penerima, Payung 5.092 penerima, Tukak Sadai 3.052 penerima, Pulau Besar 2.151 penerima, dan Kepulauan Pongok 943 penerima. Jumlah tersebut mencerminkan beban kerja besar yang harus ditangani pemerintah daerah dalam memastikan pendistribusian makanan dapat tepat waktu dan sesuai standar gizi.

Untuk mendukung kebutuhan logistik tersebut, pemerintah merencanakan pembangunan 20 dapur MBG yang tersebar di seluruh kecamatan. Toboali menjadi wilayah dengan jumlah dapur terbanyak, yaitu tujuh unit, mengingat cakupan penerimanya yang paling besar. Selanjutnya, masing-masing satu dapur akan dibangun di Lepar, Tukak Sadai, Pulau Besar, dan Kepulauan Pongok. Sementara Air Gegas rencananya memiliki empat dapur, Simpang Rimba tiga dapur, dan Payung dua dapur. Penyebaran dapur ini dirancang agar distribusi makanan dapat dilakukan lebih efisien dan terukur.

Rakor ini menjadi langkah awal memperkuat mekanisme operasional MBG di Bangka Selatan. Dengan dukungan lintas sektor dan pendampingan BGN, pemerintah daerah berharap program dapat berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat jangka panjang bagi peningkatan kualitas gizi anak sekolah serta penguatan ekonomi masyarakat.