Intisari Berita:

  • Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel bersama perusahaan dan Apkasindo menetapkan harga TBS sawit periode 1-15 April 2026 berkisar Rp3.088 hingga Rp3.783 per kilogram.
  • Penetapan harga dipengaruhi usia tanaman, kualitas buah, rendemen minyak, serta biaya transportasi dan BBM yang meningkat, sehingga memengaruhi harga di tingkat pabrik.
  • DPKP Babel mendorong hilirisasi industri sawit di daerah guna menekan biaya logistik pengiriman CPO keluar daerah dan meningkatkan nilai tambah bagi petani lokal.

SUARABAHANA.COM — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama perusahaan kelapa sawit dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menyepakati harga tandan buah segar (TBS) sawit periode 1–15 April 2026 dengan kisaran Rp3.088 hingga Rp3.783 per kilogram. Kesepakatan ini menjadi acuan bagi petani dan pelaku usaha dalam transaksi di tingkat lapangan.

Kepala Bidang Perkebunan DPKP Babel, Isa Anshorie, mengatakan harga tertinggi sebesar Rp3.783 per kilogram berlaku untuk tanaman dengan usia 10 hingga 20 tahun. Sementara itu, harga terendah Rp3.088 per kilogram diperuntukkan bagi tanaman berumur sekitar tiga tahun. Secara umum, harga rata-rata TBS pada periode ini berada di kisaran Rp3.400 per kilogram.

Ia menegaskan bahwa perbedaan harga tersebut sangat bergantung pada usia tanaman kelapa sawit. Menurutnya, pemahaman terkait hal ini penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan petani maupun pihak perusahaan.

Foto ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit. Sumber foto: gapki.id.
Foto ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit. Sumber foto: gapki.id.

Penetapan harga TBS ini dilakukan secara rutin setiap dua pekan melalui rapat bersama antara pemerintah daerah, perusahaan, dan perwakilan petani. Mekanisme ini bertujuan memberikan kepastian harga sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan industri pengolahan sawit di daerah.

Isa menjelaskan bahwa dalam proses penentuan harga, terdapat sejumlah faktor teknis dan ekonomi yang turut memengaruhi. Salah satu faktor utama adalah rendemen atau kadar minyak yang dihasilkan dari buah sawit. Rendemen ini sangat bergantung pada kualitas buah yang dipanen.

Ia mengingatkan bahwa kondisi fisik buah yang tampak baik belum tentu menghasilkan minyak optimal apabila dipanen dalam kondisi belum matang. Oleh karena itu, ketepatan waktu panen menjadi kunci dalam menjaga kualitas produksi dan harga jual di tingkat pabrik.

 

Selain faktor kualitas, kenaikan biaya transportasi dan harga bahan bakar minyak (BBM) juga turut memengaruhi struktur harga TBS. Biaya distribusi yang meningkat berdampak langsung terhadap harga yang diterima petani, terutama di daerah yang bergantung pada pengiriman ke luar wilayah.

Saat ini, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih mengirimkan crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah ke luar daerah, salah satunya ke Belawan, Riau. Ketergantungan terhadap pengiriman keluar daerah ini dinilai menjadi salah satu penyebab tingginya biaya logistik.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DPKP Babel mendorong percepatan pembangunan industri hilirisasi sawit di dalam daerah. Dengan adanya industri pengolahan lanjutan, nilai tambah komoditas sawit diharapkan dapat meningkat secara signifikan.

Hilirisasi juga diyakini mampu memotong rantai distribusi dan menekan biaya pengiriman, sehingga berdampak positif terhadap harga jual TBS di tingkat petani. Selain itu, pengembangan industri hilir dinilai dapat membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor perkebunan dan industri.

Pemerintah daerah berharap sinergi antara petani, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sawit. Langkah ini dianggap penting dalam mendukung keberlanjutan sektor perkebunan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian daerah.

Dengan kepastian harga dan dorongan hilirisasi, sektor kelapa sawit di Bangka Belitung diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kesejahteraan petani serta pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan.

Sumber: ANTARA BABEL