Selain faktor kualitas, kenaikan biaya transportasi dan harga bahan bakar minyak (BBM) juga turut memengaruhi struktur harga TBS. Biaya distribusi yang meningkat berdampak langsung terhadap harga yang diterima petani, terutama di daerah yang bergantung pada pengiriman ke luar wilayah.

Saat ini, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih mengirimkan crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah ke luar daerah, salah satunya ke Belawan, Riau. Ketergantungan terhadap pengiriman keluar daerah ini dinilai menjadi salah satu penyebab tingginya biaya logistik.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DPKP Babel mendorong percepatan pembangunan industri hilirisasi sawit di dalam daerah. Dengan adanya industri pengolahan lanjutan, nilai tambah komoditas sawit diharapkan dapat meningkat secara signifikan.

Hilirisasi juga diyakini mampu memotong rantai distribusi dan menekan biaya pengiriman, sehingga berdampak positif terhadap harga jual TBS di tingkat petani. Selain itu, pengembangan industri hilir dinilai dapat membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor perkebunan dan industri.

Pemerintah daerah berharap sinergi antara petani, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sawit. Langkah ini dianggap penting dalam mendukung keberlanjutan sektor perkebunan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian daerah.

Dengan kepastian harga dan dorongan hilirisasi, sektor kelapa sawit di Bangka Belitung diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kesejahteraan petani serta pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan.

Sumber: ANTARA BABEL