Ringkasan Berita:

  • Dinas PUPR Bangka Selatan (Basel) menelusuri hulu Sungai Pumpung untuk mencari sumber kekeruhan air yang mengganggu irigasi sawah, diduga akibat aktivitas tambang ilegal.
  • GP3A Junjung Besaoh melaporkan kerusakan padi akibat air asin dari luapan sungai dan mendesak peninggian tanggul serta penanganan kualitas air irigasi.
  • Petani di Desa Rias terancam gagal panen akibat air asin dan air keruh, meminta pemerintah bergerak cepat menangani dampak pasang laut dan tambang ilegal.

SUARABAHANA.COM — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bangka Selatan menurunkan tim untuk melakukan penelusuran aliran dari hilir ke hulu Sungai Pumpung Desa Rias Toboali, pada Kamis (27/11).

Langkah itu dilakukan guna memastikan sumber kekeruhan air yang belakangan dikeluhkan petani di Desa Rias, Kecamatan Toboali. Penelusuran dipimpin langsung Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Bangka Selatan, Andri, ST, dengan melibatkan anggota Satpol PP, dan Ketua GP3A Tahang, HS.

Kondisi air yang dikeluhkan sejumlah petani di Desa Rias Toboali.
Kondisi air yang dikeluhkan sejumlah petani di Desa Rias Toboali.

Menurut Andri, tim bergerak dari hilir ke arah hulu Sungai Pumpung menuju titik yang diduga menjadi lokasi aktivitas tambang ilegal. Jarak titik tersebut diperkirakan sekitar empat kilometer dari hulu sungai. Kondisi air yang agak keruh dan pekat mendorong tim mengambil sampel untuk dilakukan pengujian laboratorium.

“Sampel itu akan dibawa ke laboratorium untuk diuji, termasuk pemeriksaan tingkat pH dan parameter kualitas air lainnya. Untuk hasil lengkap, baiknya dikonfirmasi lebih lanjut kepada Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Bangka Selatan,” kata Andri di Toboali.

Ia menegaskan, hasil uji laboratorium nantinya menjadi dasar penanganan lanjutan, terutama jika kekeruhan terbukti berasal dari aktivitas penambangan ilegal. Kualitas air bendungan dan saluran irigasi sangat bergantung pada kondisi hulu sungai.