Apresiasi Tokoh Presidium dan Wartawan: Sabrul Iman Tegas, Profesional, Nahkoda Baru Lebih Gacor?
SUARABAHANA.COM — Presidium Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan berharap kepemimpinan baru melanjutkan capaian positif, memperkuat integritas, serta menghadirkan penegakan hukum adil dan transparan. Pergantian kepemimpinan di Kejaksaan Negeri Bangka Selatan mendapat perhatian dan respons positif dari tokoh masyarakat.
Anggota Presidium Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Yapiter, SH, menyampaikan apresiasi terbuka atas kinerja Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan sebelumnya, Sabrul Iman, yang dinilai telah menjalankan tugas dengan dedikasi tinggi serta penegakan hukum yang tegas dan profesional.
Menurut Yapiter, selama masa kepemimpinan Sabrul Iman, Kejari Bangka Selatan menunjukkan kinerja signifikan, terutama dalam pengungkapan sejumlah perkara besar yang terjadi di wilayah tersebut. Capaian itu, kata dia, menjadi catatan penting yang berdampak langsung pada meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi kejaksaan sebagai aparat penegak hukum.
“Penegakan hukum di Bangka Selatan berjalan lebih tegas dan profesional. Pengungkapan kasus-kasus besar menjadi indikator nyata kinerja kejaksaan yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Yapiter dalam pernyataannya, Kamis malam (12/2/2026).

Ia menilai, langkah-langkah hukum yang ditempuh selama ini tidak hanya menunjukkan keberanian institusi, tetapi juga mencerminkan komitmen kejaksaan dalam menjaga integritas dan supremasi hukum di Bangka Selatan. Hal tersebut dinilai sejalan dengan harapan masyarakat yang menginginkan penegakan hukum yang adil, transparan, dan tidak pandang bulu.
Seiring dengan berakhirnya masa tugas Sabrul Iman di Bangka Selatan, Yapiter juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian yang telah diberikan. Menurutnya, fondasi kerja yang telah dibangun selama kepemimpinan sebelumnya menjadi modal penting bagi keberlanjutan kinerja Kejari Bangka Selatan ke depan.
Di saat yang sama, Yapiter turut menyambut kehadiran Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan yang baru, Dr. Asep Kurniawan Cakraputra, SH, MH. Penunjukan Asep Kurniawan sebagai Kajari Bangka Selatan dinilai membawa harapan baru bagi penguatan institusi kejaksaan di daerah tersebut.
Dengan latar belakang dan pengalaman Asep Kurniawan, termasuk rekam jejaknya sebagai mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), masyarakat Bangka Selatan menaruh ekspektasi besar terhadap kinerja Kejari di bawah kepemimpinan yang baru. Yapiter menilai, pengalaman tersebut menjadi modal strategis untuk mendorong penegakan hukum yang lebih progresif dan berani.
“Kami berharap kinerja Kejari Bangka Selatan ke depan tidak hanya mempertahankan capaian yang sudah ada, tetapi juga mampu melampaui dengan mengungkap kasus-kasus yang lebih besar lagi,” katanya.
Sebagai salah satu anggota Presidium Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Yapiter menegaskan bahwa masyarakat memiliki kepentingan besar terhadap terciptanya iklim hukum yang sehat. Ia berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan hal-hal baik yang telah dirintis, sekaligus memperkuat integritas internal kejaksaan.
Selain itu, peningkatan profesionalisme aparat penegak hukum dinilai menjadi kunci dalam menghadirkan penegakan hukum yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan pada keadilan publik diharapkan menjadi prinsip utama dalam setiap langkah penegakan hukum di Bangka Selatan.
Yapiter juga menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan dan keberanian institusi dalam menangani perkara-perkara strategis yang berdampak luas. Menurutnya, kehadiran Kajari baru harus mampu menjawab harapan masyarakat yang semakin kritis terhadap kinerja aparat penegak hukum.
Ketua PWI Basel: Gebrakan Sabrul Iman Tinggalkan Jejak Kuat di Penegakan Tipikor
Mutasi Sabrul Iman memunculkan harapan agar Kajari baru, Asep Kurniawan Cakraputra, mampu melanjutkan gebrakan pemberantasan korupsi di Bangka Selatan. Kehadiran Sabrul Iman sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan dinilai membawa warna baru dalam penegakan hukum, khususnya tindak pidana korupsi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangka Selatan, Dedy Irawan, yang menilai kinerja Sabrul Iman meninggalkan jejak kuat meski masa tugasnya tergolong singkat. Menurut Dedy, hanya dalam hitungan bulan sejak menjabat, Sabrul Iman mampu menunjukkan komitmen nyata dalam pemberantasan korupsi di Bangka Selatan.
Salah satu capaian paling menonjol adalah keberhasilan Kejari Bangka Selatan membongkar kasus tindak pidana korupsi SP3AT fiktif di Desa Lepong dengan nilai kerugian negara mencapai Rp45,9 miliar. Nilai tersebut disebut sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga saat ini.
“Bagi kami, kehadiran Pak Sabrul Iman seperti membawa energi baru dalam penegakan hukum, terutama tipikor. Dalam waktu relatif singkat, sudah ada pembuktian yang nyata,” ujar Dedy Irawan, di Toboali, Kamis (12/2/2026).
Selain kasus SP3AT fiktif, Kejari Bangka Selatan juga tengah menangani sejumlah perkara tindak pidana korupsi lain yang masih dalam tahap penyelidikan maupun penyidikan. Salah satu yang menjadi perhatian publik adalah perkara terkait tata niaga timah. Berdasarkan pernyataan Sabrul Iman sebelumnya, potensi kerugian negara dalam kasus tersebut diperkirakan dapat mencapai ratusan miliar rupiah.

Dedy menilai, keberanian dan ketegasan Sabrul Iman dalam mengungkap kasus-kasus besar menjadi hal yang dirindukan oleh insan pers maupun masyarakat Bangka Selatan. Menurutnya, penanganan perkara yang progresif dan terbuka memberikan harapan baru terhadap upaya membersihkan daerah dari praktik korupsi yang selama ini merugikan keuangan negara dan kepentingan publik.
Namun demikian, kabar mutasi Sabrul Iman ke Kejaksaan Negeri Magetan, Jawa Timur, memunculkan perasaan campur aduk di kalangan wartawan dan masyarakat. Dedy mengaku ada rasa sedih karena Sabrul Iman harus meninggalkan Bangka Selatan setelah sekitar tujuh bulan bertugas.
“Sebagai awak media, kami tentu merasa kehilangan. Dalam waktu tujuh bulan, beliau sudah menunjukkan gebrakan yang luar biasa. Ada rasa sedih ketika mendengar beliau harus kembali pindah,” kata Dedy.
Meski demikian, Dedy tetap berharap estafet kepemimpinan di Kejari Bangka Selatan dapat berjalan dengan baik. Ia menaruh harapan besar kepada Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan yang baru, Asep Kurniawan Cakraputra, untuk melanjutkan bahkan memperkuat langkah-langkah pemberantasan korupsi yang telah dirintis oleh Sabrul Iman.
Jejak Sabrul di Kasus Besar Tanah Air
Nama Sabrul Iman bukan figur yang lahir dari ruang senyap birokrasi. Rekam jejaknya dalam dunia kejaksaan menunjukkan lintasan karier yang dibentuk oleh perkara-perkara besar, kompleks, dan berisiko tinggi. Lebih dari dua dekade mengabdi sebagai jaksa, Sabrul Iman menapaki jalur struktural dan teknis penegakan hukum, terutama pada sektor tindak pidana khusus yang menjadi jantung pemberantasan korupsi.
Fakta menunjukkan, sejak awal karier strukturalnya, Sabrul Iman ditempatkan pada posisi strategis. Pada 2016, ia menjabat Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Tua Pejat dan berhasil meraih peringkat tiga nasional.
Setahun kemudian, saat dipercaya sebagai Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Karawang, ia mencatat prestasi lebih tinggi dengan meraih peringkat pertama nasional. Capaian ini tidak sekadar administratif, melainkan menunjukkan kapasitas manajerial dan kemampuan membaca dinamika hukum di lapangan.
Lompatan karier Sabrul Iman semakin terlihat ketika memasuki ranah tindak pidana khusus. Pada 2018, sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Temanggung, ia menerima apresiasi kinerja terbaik dalam penanganan perkara besar dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Ini menjadi penanda awal konsistensinya di medan perkara korupsi bernilai besar.
Puncak kompleksitas tugas terlihat jelas ketika Sabrul Iman bergabung di Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Sebagai Kepala Subbagian pada 2019, hingga kemudian Kepala Seksi Wilayah I Pengaduan Masyarakat pada 2022, ia terlibat langsung dalam penanganan perkara-perkara nasional dengan nilai kerugian negara fantastis.
Perkara BTS Kominfo dengan kerugian Rp 8 triliun, kasus Timah senilai Rp 300 triliun, hingga perkara CPO Duta Palma dengan kerugian Rp 78,7 triliun bukan sekadar angka, tetapi simbol besarnya tantangan hukum yang dihadapi negara.
Fakta lain yang patut dicatat adalah keterlibatannya dalam penanganan perkara yang menyentuh aktor-aktor kuat, mulai dari korporasi besar hingga aparat penegak hukum sendiri. Penanganan perkara suap dan gratifikasi hakim Pengadilan Negeri Surabaya serta Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menunjukkan bahwa kerja penegakan hukum yang dijalani Sabrul Iman tidak selalu berada di zona aman secara politis maupun institusional.
Pada 2021, saat menjabat Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Sabrul Iman terlibat dalam penuntasan eksekusi perkara IM2 dengan kerugian negara Rp 1,3 triliun. Fakta ini memperkuat citra dirinya sebagai jaksa yang konsisten menuntaskan perkara hingga tahap eksekusi, bukan sekadar berhenti pada proses penyidikan atau penuntutan.
Penugasan sebagai Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat pada 2024 memperlihatkan dimensi lain dari kariernya. Ia tidak hanya bertugas sebagai penegak hukum teknis, tetapi juga sebagai jaksa penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Penanganan perkara minyak mentah Pertamina dengan kerugian Rp 285 triliun dan perkara impor gula senilai Rp 578 miliar menjadi indikator kepercayaan institusi terhadap kapasitas dan integritasnya.
Ketika akhirnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan pada 2025, publik dihadapkan pada ekspektasi tinggi. Penanganan perkara penerbitan legalitas lahan negara atau yang dikenal sebagai mafia tanah, dengan tersangka Bupati Bangka Selatan periode 2016–2021, menjadi ujian langsung independensi dan profesionalisme. Fakta bahwa perkara ini menyentuh kepala daerah aktif pada periode sebelumnya menunjukkan keberanian institusi, sekaligus menempatkan Sabrul Iman pada sorotan publik yang tajam.
Sabrul Iman adalah “Jaksa Grade A” yang ditempa oleh perkara besar dan struktur penugasan strategis. Ia bukan figur instan, melainkan produk dari proses panjang birokrasi hukum yang menuntut ketahanan mental, integritas, dan kecakapan teknis. Dalam konteks penegakan hukum di daerah, kehadiran figur dengan latar belakang nasional seperti ini membawa harapan, sekaligus tantangan, agar standar penegakan hukum yang tegas, profesional, dan berani benar-benar terwujud hingga ke tingkat lokal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun suarabahana.com, kinerja Dr. Asep Kurniawan Cakraputra, SH, MH, sama baiknya atau tidak jauh berbeda dengan Sabrul. Dia dinilai bisa melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis Sabrul Iman, yang karena kebutuhan organisasi ditunjuk menjabat Kajari Magetan, Jawa Timur.
Beberapa kasus dugaan korupsi di Magetan telah menunggu Sabrul Iman, diantaranya dugaan korupsi dana hibah pokok-pokok pikiran (Pokir) di DPRD Magetan. Kajari Magetan sebelumnya, Dezi Septiapermana, diamankan oleh Tim Satuan Tugas Khusus Kejagung pada pertengahan Januari 2026.










