Ringkasan
  • Festival Junjung Besaoh 2026 resmi dibuka Sekda Bangka Selatan Hefi Nuranda mewakili Bupati Riza Herdavid di Kawasan Himpang 5 Toboali, Rabu (21/10/2026) malam, sebagai rangkaian Hari Jadi Kota Toboali ke-318.
  • Di tengah perayaan, Pemkab menyampaikan belasungkawa atas kebakaran Serdang yang menghanguskan sekitar 300 rumah. Sekda mengingatkan, semangat Junjung Besaoh harus terwujud lewat kepedulian dan kemanusiaan.
  • Warga diimbau waspada kebakaran di musim kemarau dan tidak membakar hutan, lahan, kebun, maupun sampah sembarangan. Sekda juga berharap festival menjadi gerakan bersama yang menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif, bukan sekadar seremoni tahunan.

SUARABAHANA.COM – Festival Junjung Besaoh 2026 resmi dibuka di Kawasan Himpang 5 Toboali, Rabu (21/10/2026) malam, saat sekitar 300 rumah di Serdang hangus terbakar. Sekda Bangka Selatan Hefi Nuranda menegaskan, semangat gotong royong harus hadir nyata, bukan sekadar perayaan.

“Junjung Besaoh bukan hanya sebuah ungkapan atau identitas budaya, tetapi juga cerminan semangat kebersamaan, gotong royong, kepedulian, dan kemanusiaan,” ungkap Sekda Hefi dalam sambutannya pada acara pembukaan festival tersebut.

Sekda Hefi hadir mewakili Bupati Bangka Selatan H. Riza Herdavid, S.T., M.Tr.IP., membuka festival yang menandai Hari Jadi Kota Toboali ke-318. Festival bertema “Ngerajut Sejarah, Ngerawat Tradisi, Ngejago Budaya” ini bertujuan memperkuat identitas daerah serta mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif.

Turut hadir unsur Forkopimda Kabupaten Bangka Selatan, Staf Ahli, para kepala OPD di lingkungan Pemkab Bangka Selatan, Lembaga Adat Melayu, Dewan Kesenian, serta tamu undangan. Prosesi Buka Lawang berlangsung meriah di Kawasan Himpang 5 Toboali.

Di tengah perayaan, Bupati Riza menyampaikan keprihatinan atas kebakaran kawasan Serdang yang menghanguskan sekitar 300 rumah. Atas nama pemerintah daerah, Sekda Hefi menyampaikan belasungkawa dan berharap para korban diberi kekuatan serta segera bangkit menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Gotong Royong di Tengah Musibah

Sekda Hefi mengingatkan bahwa semangat Junjung Besaoh tidak hanya diwujudkan lewat perayaan dan kegiatan budaya, tetapi juga lewat kepedulian dan kemanusiaan, terutama ketika warga menghadapi kesulitan. Menurutnya, masyarakat Bangka Selatan adalah satu keluarga besar yang harus saling menguatkan.

Ia juga mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di tengah musim kemarau. Masyarakat diminta tidak membakar hutan, lahan, kebun, maupun sampah sembarangan, serta segera melapor bila menemukan tanda-tanda kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Sekda Hefi mengajak seluruh masyarakat menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, kelestarian lingkungan menentukan keselamatan dan keberlangsungan hidup generasi mendatang di Bumi Junjung Besaoh.

Budaya Bukan Sekadar Seremoni

Dalam sambutannya, Sekda menyebut perjalanan 318 tahun Kota Toboali bukan sekadar hitungan usia, melainkan menyimpan sejarah panjang, perjuangan, nilai kehidupan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kemajuan daerah, kata dia, harus berjalan seiring upaya menjaga identitas.

“Tema ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Kita diajak untuk terus merajut sejarah sebagai jati diri, merawat tradisi sebagai warisan leluhur, dan menjaga budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia menegaskan, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan nilai-nilai pembentuk jati diri. Toboali diharapkan semakin maju dan sejahtera tanpa kehilangan adat istiadat, bahasa, seni, kuliner, dan kearifan lokal.

Sekda berharap Festival Junjung Besaoh tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama menjaga kebudayaan, memperkuat persaudaraan, mengembangkan pariwisata berbasis budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui festival ini, Pemkab Bangka Selatan membuka ruang perjumpaan antara sejarah, tradisi, dan masyarakat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda, wisatawan, dan masyarakat luas. Nilai besaoh diharapkan terus hidup.

Tari, Kuliner, dan Peluang UMKM

Rangkaian pembukaan menampilkan Tari Gajah Manunggang dan Tari Tigel. Keduanya mencerminkan identitas masyarakat Bangka Selatan serta telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal, sehingga memiliki nilai sejarah yang layak dijaga dan dikenalkan.

Bangka Selatan juga kaya kuliner khas seperti lempah kuning habang, mi kuah ikan, kue badak, dan bolu kuci. Kekayaan ini dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.

Sekda mengajak tokoh adat, keluarga, lembaga pendidikan, seniman, budayawan, komunitas, dan pelaku usaha bersama menjaga budaya daerah. Ia menekankan pentingnya generasi muda mempelajari bahasa, tarian, permainan tradisional, dan kuliner lokal agar warisan leluhur tetap hidup.

Melalui Festival Bahasa Habang, keterlibatan komunitas budaya, serta beragam kegiatan seni dan tradisi, kebudayaan Bangka Selatan diharapkan semakin dikenal dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Jadikan kebudayaan sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan, mengembangkan pariwisata, menggerakkan ekonomi kreatif, dan memperkenalkan Bangka Selatan kepada dunia,” imbuhnya.

Dengan mengoptimalkan kekayaan budaya dan tradisi lokal, festival diharapkan memperkuat daya tarik pariwisata dan mendorong ekonomi kreatif. Sekda mengajak warga menjadikan Hari Jadi Kota Toboali ke-318 momentum memperkuat persatuan dan membangun Bangka Selatan yang lebih baik.