Pelabuhan Sadai Ditutup Sekitar 2 Bulan Usai Ramp MB Amblas, Pemkab Siapkan Rp1 Miliar
Pelabuhan Penyeberangan Sadai ditutup sementara hingga rehabilitasi Ramp MB selesai, diperkirakan sekitar dua bulan, setelah jembatan bergerak itu amblas pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Pemkab Bangka Selatan mengalokasikan sekitar Rp1 miliar. Perencanaan teknis memasuki tahap akhir, lelang dijadwalkan pekan depan selama 21 hari, lalu konstruksi sekitar 30 hari.
Gubernur Hidayat Arsani meninjau lokasi dan mengarahkan satu kali penyeberangan terakhir bersama PT ASDP. Pelabuhan Tanjung Ru dan Pangkalbalam dikaji sebagai alternatif.
SUARABAHANA.COM – Pelabuhan Penyeberangan Sadai di Kecamatan Tukak Sadai ditutup sementara hingga rehabilitasi Ramp MB yang amblas selesai, diperkirakan sekitar dua bulan, sementara Pemkab Bangka Selatan mengalokasikan sekitar Rp1 miliar untuk perbaikan, kata Kadishub Benny Supratama, Selasa (23/6/2026).
“Untuk pelayanan penyeberangan selanjutnya, sementara waktu dihentikan sampai proses rehabilitasi Ramp MB selesai dilaksanakan. Kami berharap pihak pemilik maupun operator kapal dapat mengalihkan pelayanan operasional ke pelabuhan alternatif lainnya yang memungkinkan,” jelas Benny Supratama, S.STP., M.Si.
Gubernur Tinjau Langsung Lokasi
Benny, mewakili Bupati Riza Herdavid, mendampingi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Dr. (HC) Hidayat Arsani, S.E., meninjau kondisi pelabuhan. Peninjauan dilakukan setelah Ramp MB (Moveable Bridge), jembatan bergerak penghubung dermaga dan kapal, amblas Senin (22/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Akibat kejadian itu, aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Sadai dihentikan sementara untuk menjamin keselamatan pengguna jasa serta mendukung penanganan dan perbaikan.
Berdasarkan pemantauan awal, Benny menyebut kerusakan diduga dipengaruhi faktor alam. Konstruksi yang sudah cukup lama berdiri diperparah korosi akibat paparan air laut dalam waktu panjang.
Satu Kali Penyeberangan Diizinkan
Benny menjelaskan, untuk satu perjalanan yang sudah berizin dan bermuatan yang harus segera diseberangkan, Gubernur mengarahkan agar penyeberangan dilakukan satu kali. Pelaksanaannya berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry selaku operator.
Penyeberangan tersebut berdasarkan pertimbangan teknis dan persetujuan Syahbandar, pejabat berwenang pengawas keselamatan pelayaran, serta dengan langkah penanganan tambahan agar keselamatan tetap terjaga. Setelah itu, layanan dihentikan hingga perbaikan selesai.
“Hari ini kami bersama Bapak Gubernur telah meninjau secara langsung kondisi terkini terkait amblasnya Ramp MB di Pelabuhan Sadai,” ujar Benny.
Rp1 Miliar untuk Rehabilitasi, Lelang Pekan Depan
Pemkab Bangka Selatan mengalokasikan sekitar Rp1 miliar untuk rehabilitasi fasilitas penyeberangan itu. Proyek ini bagian dari program kerja tahun berjalan di sektor perhubungan.
Perencanaan teknis sudah memasuki tahap akhir dan segera menuju lelang pekerjaan fisik. Benny menegaskan percepatan dilakukan agar layanan penyeberangan segera pulih dan beroperasi normal.
Lelang ditargetkan mulai pekan depan dan berlangsung sekitar 21 hari. Setelah itu, konstruksi ditargetkan selesai sekitar 30 hari atau satu bulan.
“Dengan memperhitungkan seluruh tahapan, mulai dari proses lelang hingga pelaksanaan konstruksi, perbaikan Ramp MB diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan sampai dapat kembali beroperasi secara normal. Untuk sementara, Pelabuhan Penyeberangan Sadai ditutup hingga proses rehabilitasi selesai dilaksanakan,” pungkas Benny.
Pelabuhan Alternatif Dikaji
Pemerintah juga membuka peluang memakai pelabuhan lain selama perbaikan. Salah satu opsi yang dikaji adalah Pelabuhan Tanjung Ru atau Pelabuhan Pangkalbalam, yang kewenangannya ada pada Kementerian Perhubungan lewat Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP).
“Pihak ASDP akan mengajukan permohonan izin kepada KUPP serta melakukan paparan teknis dan uji coba operasional terlebih dahulu untuk memastikan kelayakan penggunaan pelabuhan tersebut,” katanya.
Jika memungkinkan, pelabuhan alternatif itu diharapkan memperpendek jarak tempuh menuju Belitung sekaligus mendukung kelancaran layanan penyeberangan.










