RSUD Junjung Besaoh Siapkan 3 Gedung Baru, Pasien Tak Lagi Dirujuk Keluar Daerah
- RSUD Junjung Besaoh menyiapkan tiga gedung baru, yakni Cathlab, Sitotoksik, dan CT Scan, untuk layanan jantung, kemoterapi kanker, dan pemindaian organ. Targetnya, fasilitas itu beroperasi pada 2027 agar pasien tak perlu dirujuk keluar daerah.
- Pembangunan memakai Dana Alokasi Khusus Rp 5,1 miliar dan ditargetkan selesai secara fisik pada November 2026. Komisi I DPRD Bangka Selatan meninjau progresnya pada Selasa (27/10/2026) malam.
- Ruang Hemodialisa untuk pasien gagal ginjal disebut sudah siap. Operasionalnya tinggal menunggu kredensial BPJS Kesehatan serta izin dari kementerian atau dinas kesehatan.
SUARABAHANA.COM – Warga Bangka Selatan penderita penyakit jantung, kanker, hingga gagal ginjal segera tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk berobat. RSUD Junjung Besaoh menargetkan tiga gedung layanan canggih beroperasi pada 2027 dengan anggaran Rp 5,1 miliar dari DAK.
Anggota Komisi I DPRD Bangka Selatan, Ali Muzakir, berharap seluruh pembangunan berjalan lancar. “Progres saat ini berjalan baik. Semoga tidak ada kendala dan tahun depan dapat dioperasikan guna melayani masyarakat Bangka Selatan tanpa harus dirujuk ke rumah sakit luar daerah,” ujar politisi Partai Gerindra itu, Selasa (27/10/2026) malam.
Ali Muzakir meninjau lokasi bersama rekan sekomisinya, Sandi, sebagai bagian dari fungsi pengawasan Komisi I terhadap mitra kerjanya, yakni dinas kesehatan dan rumah sakit daerah. Direktur RSUD Junjung Besaoh, dr. Helen Sukendy, mendampingi rombongan melihat progres fisik dan kesiapan teknis.
Tiga Gedung Baru Dikebut
Menurut Ali Muzakir, ada tiga gedung baru yang kini dikebut pengerjaannya, yakni Gedung Cathlab, Gedung Sitotoksik, dan Gedung CT Scan. Ketiganya disiapkan untuk layanan medis tingkat lanjut yang selama ini membuat pasien harus dirujuk ke luar daerah.
Fasilitas Cathlab akan dipakai mendiagnosis dan menangani penyakit jantung serta pembuluh darah secara minimal invasif. Tindakan dilakukan tanpa pembedahan terbuka, dengan bantuan pencitraan sinar-X yang canggih sehingga pasien berpotensi pulih lebih cepat.
Gedung Sitotoksik disiapkan khusus sebagai ruang steril peracikan obat kemoterapi bagi pasien kanker. Ruang ini penting karena obat kemoterapi harus diracik dalam kondisi steril dan terkontrol agar aman digunakan pasien.
Sementara itu, Gedung CT Scan ditujukan untuk pemindaian organ dalam tubuh secara mendalam dengan resolusi tinggi. Layanan ini membantu dokter memperoleh gambaran kondisi pasien yang lebih jelas sebelum menentukan langkah penanganan.
Anggaran Rp 5,1 Miliar dari DAK
Sandi menjelaskan, pembangunan ketiga fasilitas medis tersebut bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp 5,1 miliar. Pengerjaan fisik dijadwalkan rampung seluruhnya pada November 2026, sehingga rumah sakit punya waktu menyiapkan operasional sebelum 2027.
Selain tiga bangunan baru itu, peninjauan menyasar ruang Hemodialisa (HD), layanan cuci darah bagi pasien gagal ginjal. Menurut Sandi, politisi Partai Demokrat, seluruh sarana penunjang cuci darah sudah siap digunakan oleh pasien.
“Ruang cuci darah sebetulnya sudah siap beroperasi, tinggal menunggu proses kredensial dari BPJS serta izin operasional dari Kementerian atau Dinas Kesehatan,” ungkap Sandi dalam kunjungan kerja tersebut.
Menunggu Kredensial dan Izin Operasional
Kredensial dari BPJS Kesehatan menentukan apakah layanan dapat dimanfaatkan peserta jaminan kesehatan. Adapun izin operasional dari kementerian atau dinas kesehatan menjadi dasar legalitas bagi rumah sakit untuk membuka layanan baru kepada masyarakat.
Selama ini, pasien yang memerlukan penanganan lanjutan harus dirujuk ke rumah sakit provinsi maupun kabupaten tetangga. Kondisi tersebut menambah beban biaya transportasi, akomodasi, dan waktu tempuh, terutama bagi keluarga pasien yang tinggal jauh dari pusat layanan.
Kehadiran fasilitas medis mutakhir di Bangka Selatan diharapkan memangkas beban tersebut. Warga pun diharapkan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, cepat, dan terjangkau tanpa harus keluar daerah untuk mendapat tindakan medis tertentu.
Pengawasan Komisi I menjadi penting agar proyek bernilai miliaran rupiah itu rampung sesuai jadwal dan benar-benar bisa dipakai. Ketepatan waktu pembangunan, kelengkapan izin, dan kesiapan layanan akan menentukan apakah target operasional 2027 tercapai.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, RSUD Junjung Besaoh akan memiliki layanan jantung, kemoterapi, pemindaian, dan cuci darah dalam satu rumah sakit daerah. Tahun depan menjadi penentu bagi warga Bangka Selatan yang selama ini harus berobat jauh.










