Tuhan Tidak Pernah Salah, Kita yang Belum Diberi Kefahaman
ADA satu hal yang sering bikin manusia “sedikit protes halus” dalam hati: doa sudah khusyuk, air mata sudah jatuh, tapi hasilnya… kok beda sama harapan?
Kita minta sembuh, Tuhan memberi pulang.
Kalau dipikir-pikir, ini seperti kita memesan teh manis hangat, tapi yang datang kopi pahit. Kita langsung mikir, “Ini pelayannya salah.” Padahal bisa jadi, si “barista langit” justru tahu tubuh kita lagi butuh kopi, bukan teh.

Di situlah konsep kehendak Tuhan sering terasa “tidak sinkron” dengan kehendak manusia.
Manusia itu unik. Kita berdoa dengan versi terbaik menurut kita. Dalam kasus keluarga sakit, kita membayangkan skenario ideal: sembuh, pulang, kumpul lagi, makan bareng, hidup kembali normal. Pokoknya happy ending ala sinetron jam prime time.
Tapi Tuhan bukan penulis sinetron.
Tuhan lebih seperti sutradara film dokumenter kehidupan yang melihat keseluruhan cerita, bukan cuma satu adegan yang kita tangisi.
Ketika kita berdoa minta kesembuhan, sebenarnya kita sedang menyampaikan keinginan. Wajar. Sangat manusiawi. Bahkan itu bagian dari ikhtiar batin. Tapi sering kali kita lupa satu hal kecil: doa itu bukan “perintah”, melainkan “permohonan”.
Kita ini kadang seperti pelanggan yang merasa sudah bayar mahal, jadi pesanan harus sesuai ekspektasi. Padahal dalam hubungan dengan Tuhan, kita bukan pelanggan… kita ini ciptaan.
Nah, ketika hasilnya berbeda, misalnya orang yang kita cintai justru meninggal, di situlah pelajaran paling “tidak nyaman” muncul: kehendak Tuhan tidak selalu sama dengan keinginan kita.
Tapi bukan berarti doa kita sia-sia.
Bisa jadi, doa itu tetap “dikabulkan”, hanya bentuknya beda. Kita minta sembuh, Tuhan memberi kesembuhan dengan cara yang lebih “final”: mengangkat sakitnya sekaligus dari dunia ini. Tidak ada lagi rasa nyeri, tidak ada lagi penderitaan.
Kalau dipikir dengan logika langit, itu justru kesembuhan total.
Hanya saja, logika manusia masih nempel di “saya masih butuh dia di sini”.
Di titik ini, kita sering keliru memahami siapa pusat cerita. Kita merasa kehilangan karena kita yang ditinggalkan. Tapi bisa jadi, bagi orang yang pergi, itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang luar biasa.
Seperti anak kecil yang nangis saat dipaksa pulang dari taman bermain. Dia pikir orang tuanya jahat. Padahal orang tuanya tahu, hari sudah gelap dan itu bukan tempat yang aman lagi.
Kita sering berada di posisi si anak kecil itu.
Bedanya, kita nangis sambil berdoa.
Humornya, manusia ini kadang lucu. Kita bilang, “Ya Allah, saya ikhlas… tapi tolong sesuai rencana saya ya.” Ikhlas rasa syarat dan ketentuan berlaku.
Padahal ikhlas yang sebenarnya itu justru muncul setelah hasilnya tidak sesuai harapan.
Kalau sesuai harapan, itu bukan ikhlas… itu cocok.
Jadi memahami kehendak Tuhan bukan berarti berhenti berdoa. Justru sebaliknya, kita tetap berdoa sekuat-kuatnya, berharap sebaik-baiknya, tapi juga siap menerima sebijak-bijaknya.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal semua keinginan kita dikabulkan, tapi soal percaya bahwa apapun yang terjadi, Tuhan tidak sedang salah mengambil keputusan.
Kita saja yang belum paham jalan ceritanya. Terima saja dulu ketentuan Allah SWT.
Dan mungkin, di suatu titik nanti, ketika emosi sudah reda dan waktu sudah memberi jarak, kita akan melihat ke belakang dan berkata pelan:
“Oh… ternyata begitu maksudnya.”


