Berita Palsu dan Disiplin Verifikasi
Bahkan kebenaran yang mengacu pada Teori Kebenaran neo-klasik atau dikenal dengan Teori Korespondensi barangkali akan mengamini kebenaran berita itu. Bahwa memang benar ada rusa terbang, jika kebenaran menurut teori itu diartikan sebagai kesesuaian antara proposisi (ada rusa terbang di langit) dan fakta (DNA rusa). Kita tidak sedang memperdebatkan teori kebenaran secara filsafat, karena tema apakah kebenaran telah melahirkan begitu banyak teori dan aliran pemikiran. Tapi apa yang kira-kira bisa diselesaikan oleh jurnalisme dalam perkara ini?
Jurnalisme, suka tak suka, haruslah kembali kepada disiplin verifikasi, seperti yang dilakukan oleh sains dalam kasus bulu rusa di badan pesawat militer. Sejumlah ahli burung dikerahkan, dan mereka menelisik kembali dengan hati-hati: semua data diuji ulang, hingga akhirnya ditemukan bulu itu adalah sisa isi perut burung pemakan bangkai. Data biologis burung itu menunjukkan kemampuan melayang setinggi lintasan pesawat terbang. Bukti lain menunjukkan burung itu menyantap bangkai rusa sebelum ia terbang tinggi dan tamat dihajar pesawat militer.
Dengan demikian, kebenaran jurnalistik tak bisa berhenti pada satu lapisan fakta saja. Lapis pertama bisa menipu dan menyesatkan, namun lapisan kedua, di mana fakta-fakta otentik digali lebih detil, akan menyibak kebenaran lainnya. Dibutuhkan pemikiran kritis (critical thinking) selain kemampuan verifikasi. Itu sebabnya, jurnalisme terutama bagi media serius yang hidup dan menjadi pemeluk teguh jurnalisme bermutu, berusaha keras mengembalikan inti atau ruh jurnalisme di tengah gemuruh produksi informasi dari media sosial.
Dalam soal inilah pertumbuhan media online menjadi penting disimak. Selama satu dekade ini kita menyaksikan munculnya jurnalisme online yang menggeser jurnalisme tradisional, terutama media cetak dan juga penyiaran. Meledaknya penggunaan telepon pintar, kian mudahnya koneksi internet di segala penjuru bumi, telah mengakibatkan milyaran informasi beredar setiap harinya melalui media sosial. Jika setengah informasi yang beredar adalah berupa berita palsu atau data yang menyesatkan, apakah yang terjadi pada kehidupan manusia?
Kecemasan ini bukan hal mengadaada. Dampak fake-news kepada keputusan publik telah dirasakan di Amerika Serikat dan Inggris, yang membuat Trump menang dan warga Inggris dianggap bodoh dengan memilih Brexit, sehingga negeri itu kian kelimpungan secara ekonomi. Dalam soal ini, tampaknya fake-news yang berisi ujaran kebencian, sangat efektif menggosok emosi dan bukan mempertajam akal budi.
Bahwa munculnya narasi sarat distorsi fakta, dengan tujuan politik tertentu, bukanlah soal baru. Betapa mudah orang terbakar oleh isu, menurut George Lakoff dalam karyanya The Political Mind, yang menjadi kitab para juru kampanye politik abad digital, karena orang lebih banyak terpengaruh bertindak dengan sesuatu yang ‘refleksif’, dan bukan oleh narasi reflektif.
Refleksif mengacu kepada rangsangan emosional yang bisa memunculkan keputusan spontan, misalnya kisah kebesaran Amerika Serikat, dan mengapa orang Amerika harus bangkit mencegah sesuatu yang ‘non-Amerika’ berkuasa di negeri itu. Hal itu lebih efektif ketimbang paparan program partai yang membutuhkan waktu untuk mencerna, sebagai sebuah sikap reflektif.
Dengan demikian tentu sajajurnalisme mendapat beban lebih berat. Bahwa ia bukan saja bertanggungjawab atas kebenaran fakta, tapi juga menarik orang untuk menyimaknya melawan berita palsu yang menyebar di media sosial. Sejumlah media sosial mulai menyadari kekeliruan karena membiarkan platformnya dipakai untuk penyebaran ujaran kebencianmelalui fake-news. Facebook membuat program Journalism Project untuk memperkuat posisi media jurnalistik melawan berita palsu, demikian juga Google.
Organisasi media di Eropadan Amerika Serikat bersekutu mendukung situs pengecek fakta semacam firstdraftnews.com dan factcheck.org, namun upaya itu masih harus terus diperkuat mengingat sedikit pengunjung datang melongok ketimbang mereka yang mengunyah berita palsu.
Satu-satunya harapan bagi jurnalisme online adalah kembali menajamkan apa yang menjadi senjatanya: disiplin verifikasi. Dan tentu dengannya ia menjadi modal penting menghidupkan kembali semangat investigatif membongkar serangan gencar aneka berita palsu. (sumber: dewanpers.or.id)
Sumber: suarapos.com









