Opini Publik
Oleh: Martono

FENOMENA koruptor menindas rakyat, namun tampil bak sosok dermawan dengan rajin bersedekah semakin sering kita jumpai di tanah air. Mereka kerap hadir di panggung masyarakat dengan membagikan sembako, membantu pembangunan rumah ibadah, atau mendanai kegiatan sosial. Sekilas tampak mulia, namun jika ditelisik lebih dalam, tindakan tersebut hanyalah topeng untuk menutupi dosa besar yang mereka lakukan terhadap rakyat.

Makhluk semacam ini ibarat aktor ulung di panggung sandiwara. Di balik senyum manis dan gaya sederhana ketika menyerahkan bantuan, sesungguhnya ada uang rakyat yang mereka rampas melalui praktik korupsi. Sedekah yang dibagikan hanyalah serpihan kecil dari hasil penjarahan anggaran negara yang seharusnya dinikmati seluruh warga.

Gambar hanya sekedar ilustrasi. Kredit foto: AI Gemini.
Gambar hanya sekedar ilustrasi. Kredit foto: AI Gemini.

Ironisnya, sebagian masyarakat justru masih memuji dan mengagungkan mereka. Budaya patronase dan mentalitas “asal dapat bantuan” membuat publik seakan lupa bahwa bantuan tersebut bukan berasal dari kantong pribadi, melainkan dari uang rakyat sendiri. Inilah yang dimanfaatkan kutu busuk untuk terus mempertahankan citra sebagai “pemimpin baik hati”.

Lebih menyakitkan lagi, mereka yang berlagak dermawan ini sering kali menggunakan momen keagamaan sebagai panggung pencitraan. Ketika Ramadan tiba, misalnya, tak sedikit yang menggelar acara buka bersama atau membagi-bagikan zakat. Padahal, agama jelas melarang seseorang mencari nama baik dengan uang haram. Namun, dalam praktik kotor, segala hal dapat dipelintir demi citra dan elektabilitas.

Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi moral yang tajam. Bagaimana mungkin seorang yang tega mengorupsi dana pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur, tiba-tiba ingin tampil sebagai sosok pahlawan sosial? Apakah secuil sedekah mampu menutupi derita rakyat yang kehilangan hak akibat dana publik digerogoti?

Kutu busuk yang korup sekaligus berlagak dermawan sebenarnya sedang mempermainkan kesadaran publik. Mereka berharap rakyat cepat lupa, silau oleh bantuan sesaat, dan mengabaikan kerugian besar yang ditimbulkan oleh praktik korupsi. Pola ini menciptakan siklus busuk, di mana korupsi dibiarkan tumbuh subur karena publik gagal melihat siapa sebenarnya pengkhianat bangsa.

Sungguh tragis, ketika rakyat miskin yang paling merasakan dampak korupsi, justru menjadi objek utama sedekah ini. Mereka diberi bantuan sekarung beras atau sejumlah uang, namun hak mereka atas layanan publik yang berkualitas telah dirampas. Sedekah itu ibarat plester kecil yang menutupi luka parah akibat kebijakan penuh penindasan.

Jika dibiarkan, fenomena ini akan merusak tatanan demokrasi. Perilaku berbasis citra dan pencitraan semu membuat rakyat sulit membedakan mana pemimpin sejati dan mana penjahat berdasi. Pada akhirnya, yang berkuasa bukanlah mereka yang tulus melayani, melainkan mereka yang lihai memoles diri dengan kepalsuan.

Lebih jauh lagi, sikap munafik ini menodai makna sejati dari sedekah. Sedekah seharusnya lahir dari keikhlasan dan ketulusan hati, bukan sebagai alat menutupi dosa korupsi. Ketika sedekah dipolitisasi, nilai spiritualnya hilang dan berganti menjadi transaksi murahan demi kekuasaan.

Masyarakat perlu lebih kritis dalam melihat fenomena ini. Jangan mudah terpesona oleh aksi dermawan yang hanya terjadi menjelang pemilu atau saat isu korupsi mulai mencuat. Pertanyaan sederhana perlu diajukan: dari mana uang bantuan itu berasal? Apakah benar dari keringat pribadi atau justru hasil korupsi?

Media massa dan masyarakat sipil juga punya peran penting membongkar kemunafikan politik semacam ini. Alih-alih hanya memberitakan aksi bagi-bagi sedekah, media harus berani menggali jejak kekayaan dan sumber dana yang mereka gunakan. Dengan begitu, publik bisa melihat realitas, bukan sekadar pencitraan.

Penegak hukum pun tidak boleh tinggal diam. Korupsi adalah tindak pidana serius, dan sedekah tidak bisa menjadi alasan pemaaf. Jangan sampai hukum tumpul ke atas hanya karena pelaku rajin menyumbang di masyarakat. Jika dibiarkan, keadilan akan terus diinjak-injak oleh mereka yang seharusnya menjadi teladan.

Pada akhirnya, rakyatlah yang harus menentukan sikap. Menolak bantuan semu dari hasil korupsi adalah langkah moral yang berani, meski tidak mudah. Dengan kesadaran kolektif, rakyat bisa menghentikan siklus busuk yang merampas hak publik lalu berlagak sebagai penyelamat.

Kutu busuk yang korup tapi rajin bersedekah hanyalah serigala berbulu domba. Mereka bukan pahlawan rakyat, melainkan pengkhianat bangsa yang menggunakan topeng dermawan untuk melanggengkan kekuasaan. Rakyat harus sadar, sedekah sejati tidak lahir dari uang haram, melainkan dari ketulusan hati yang bersih.