KALAU kita jujur-jujuran, apa yang dilakukan Bupati Riza Herdavid dan Wakil Bupati Debby Vita Dewi dalam menata Kota Toboali itu ibarat orang yang lagi dandan pakai budget pas-pasan.

Bedaknya tipis, lipstiknya hemat, tapi hasilnya tetap kelihatan. Nggak menor, tapi agak enak dipandang.

Di tengah kondisi keuangan daerah yang bisa dibilang lagi “agak cekak”, perubahan di Toboali itu terasa. Nggak wah banget, tapi juga nggak bisa dibilang biasa saja.

Contohnya ya di Simpang Lima. Dulu lewat situ mungkin cuma numpang lewat. Sekarang? Sudah mulai ada rasa, “oh… ini kota punya wajah juga ternyata.”

Kawasan wisata di Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan saat diabadikan oleh salah satu fotografer. Kredit foto: istimewa.
Kawasan wisata di Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan saat diabadikan oleh salah satu fotografer. Kredit foto: istimewa.

Memang belum sempurna. Tapi namanya juga proses. Orang baru potong rambut saja butuh waktu buat terbiasa, apalagi kota yang lagi ditata.

Beberapa titik lain juga ikut kecipratan sentuhan. Air Bakung, Tugu Nanas, dan kawan-kawannya. Soal bagus atau tidak, itu urusan selera.

Ada yang bilang keren, ada juga yang mungkin bilang “ya… gitu deh.” Tapi satu hal yang nggak bisa dibantah: ada usaha. Kota ini nggak lagi dibiarkan polos tanpa arah.

Nah, yang terbaru ini agak seru. Rencana penataan Lapangan Merdeka tahun 2026 mulai bikin obrolan warung kopi naik level. Ada yang setuju, ada yang mulai pasang alis tanda tanya.

Sebenarnya wajar sih. Namanya ruang publik, pasti semua merasa punya hak bersuara. Mau tanya detail, mau protes, mau kasih ide, sah-sah saja. Kita ini kan daerah demokratis, bukan sistem “pokoknya jadi.”

Tapi di sisi lain, kalau niatnya memang untuk membangun dan memperbaiki, ya masa iya langsung ditolak mentah-mentah? Ibarat orang mau bangun rumah, masa baru gali pondasi sudah disuruh berhenti karena cat temboknya belum jelas mau warna apa.