Pak Bupati…Kapan Toboali Punya Hotel Berbintang dan Mall?
Kalau ada masalah, ya dibahas. Kalau ada kekurangan, ya diperbaiki. Nggak semua harus sempurna dari awal.
Di luar itu, ada juga suara-suara dari masyarakat yang tinggal di luar Toboali. Kurang lebih nadanya begini: “Kok Toboali terus yang diperhatikan? Daerah kami kapan?”
Ini juga nggak salah. Justru bagus. Artinya masyarakat punya keinginan daerahnya ikut maju. Nggak ada orang yang protes karena daerahnya terlalu maju, kan?
Cuma memang kita juga harus lihat kondisi dapur. APBD Bangka Selatan tahun 2026 lagi nggak dalam posisi “dompet tebal”.
Efisiensi dari pusat bikin banyak daerah harus pintar-pintar mengatur napas. Jadi kalau pembangunan belum bisa merata, ya bukan karena pilih kasih, tapi karena memang uangnya belum cukup buat semua.
Nah, di tengah semua cerita ini, ada satu mimpi yang agak “nekat tapi menarik” dari penulis: hotel berbintang.
Kedengarannya seperti cita-cita anak kecil yang pengen jadi astronot. Tinggi? Iya. Mustahil? Belum tentu.
Kalau dipikir-pikir, kehadiran hotel berbintang itu bukan cuma soal tempat nginap. Itu semacam tanda bahwa sebuah daerah sudah “naik kelas”. Ada aktivitas, ada pergerakan ekonomi, ada orang luar yang datang bukan cuma numpang lewat.
Tapi ya itu tadi, investor juga bukan dermawan. Mereka pakai kalkulator, bukan perasaan. Kalau hitung-hitungan belum masuk, ya mereka masih mikir dua kali.
Bangka Selatan ini memang unik. Dari awal jadi kabupaten, kita seperti mulai dari nol. Fasilitas minim, penunjang terbatas. Jadi kalau sekarang mulai bermimpi agak tinggi, ya wajar saja. Namanya juga proses naik tangga, masa selamanya di anak tangga pertama.










