Sedekah ala Koruptor, Aktor Ulung di Panggung Sandiwara!
Opini Publik
Oleh: Martono
FENOMENA koruptor menindas rakyat, namun tampil bak sosok dermawan dengan rajin bersedekah semakin sering kita jumpai di tanah air. Mereka kerap hadir di panggung masyarakat dengan membagikan sembako, membantu pembangunan rumah ibadah, atau mendanai kegiatan sosial. Sekilas tampak mulia, namun jika ditelisik lebih dalam, tindakan tersebut hanyalah topeng untuk menutupi dosa besar yang mereka lakukan terhadap rakyat.
Makhluk semacam ini ibarat aktor ulung di panggung sandiwara. Di balik senyum manis dan gaya sederhana ketika menyerahkan bantuan, sesungguhnya ada uang rakyat yang mereka rampas melalui praktik korupsi. Sedekah yang dibagikan hanyalah serpihan kecil dari hasil penjarahan anggaran negara yang seharusnya dinikmati seluruh warga.

Ironisnya, sebagian masyarakat justru masih memuji dan mengagungkan mereka. Budaya patronase dan mentalitas “asal dapat bantuan” membuat publik seakan lupa bahwa bantuan tersebut bukan berasal dari kantong pribadi, melainkan dari uang rakyat sendiri. Inilah yang dimanfaatkan kutu busuk untuk terus mempertahankan citra sebagai “pemimpin baik hati”.
Lebih menyakitkan lagi, mereka yang berlagak dermawan ini sering kali menggunakan momen keagamaan sebagai panggung pencitraan. Ketika Ramadan tiba, misalnya, tak sedikit yang menggelar acara buka bersama atau membagi-bagikan zakat. Padahal, agama jelas melarang seseorang mencari nama baik dengan uang haram. Namun, dalam praktik kotor, segala hal dapat dipelintir demi citra dan elektabilitas.
Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi moral yang tajam. Bagaimana mungkin seorang yang tega mengorupsi dana pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur, tiba-tiba ingin tampil sebagai sosok pahlawan sosial? Apakah secuil sedekah mampu menutupi derita rakyat yang kehilangan hak akibat dana publik digerogoti?
Kutu busuk yang korup sekaligus berlagak dermawan sebenarnya sedang mempermainkan kesadaran publik. Mereka berharap rakyat cepat lupa, silau oleh bantuan sesaat, dan mengabaikan kerugian besar yang ditimbulkan oleh praktik korupsi. Pola ini menciptakan siklus busuk, di mana korupsi dibiarkan tumbuh subur karena publik gagal melihat siapa sebenarnya pengkhianat bangsa.
Sungguh tragis, ketika rakyat miskin yang paling merasakan dampak korupsi, justru menjadi objek utama sedekah ini. Mereka diberi bantuan sekarung beras atau sejumlah uang, namun hak mereka atas layanan publik yang berkualitas telah dirampas. Sedekah itu ibarat plester kecil yang menutupi luka parah akibat kebijakan penuh penindasan.








