Ringkasan

Pemkab Bangka Selatan menargetkan terbentuknya Kelurahan dan Desa Siaga TBC di seluruh wilayah, bersama gerakan Kampung Bebas Jentik, dalam pertemuan koordinasi di Toboali pada 20–21 Juli 2026.

Staf Ahli Bupati Muhammad Zamroni menegaskan penanggulangan TBC bukan hanya tugas Dinas Kesehatan atau puskesmas, tetapi tantangan bersama yang butuh dukungan lintas sektor solid dan terintegrasi.

Kegiatan ini menindaklanjuti Surat Edaran Bupati tentang percepatan pembentukan Desa Siaga TBC, sekaligus menyusun rencana aksi pencegahan demam berdarah dengue lewat Jumantik Mandiri.

SUARABAHANA.COM, TOBOALI – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menargetkan terbentuknya Kelurahan dan Desa Siaga TBC di seluruh wilayah, berikut gerakan Kampung Bebas Jentik, dalam Pertemuan Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular di Hotel Swarna Manunggal, Toboali, 20–21 Juli 2026.

“Pertemuan ini bukan sekadar ajang berkumpul atau seremoni semata. Saya ingin pulang dari sini kita memiliki komitmen yang sama. Tidak boleh ada pasien TBC yang tidak terdeteksi dan tidak boleh ada pasien yang gagal dalam pengobatan. Mari kita bekerja dengan data, bekerja dengan hati, dan bekerja secara terintegrasi,” ujar Staf Ahli Bupati, Muhammad Zamroni, S.STP.

Daftar Isi

Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor

Pertemuan mengusung tema “Penguatan Komitmen Pembentukan Kelurahan/Desa Siaga TBC dan Kampung Bebas Jentik Kabupaten Bangka Selatan”. Kegiatan ini diinisiasi Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Bangka Selatan.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Bupati Bangka Selatan Nomor 400.7.8.1/1/DKPPKB/SETDA/2026 tentang Percepatan Pembentukan Kelurahan/Desa Siaga TBC. Forum ini memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) dan mengendalikan Demam Berdarah Dengue (DBD).

TBC Bukan Hanya Urusan Sektor Kesehatan

Mewakili Bupati Bangka Selatan H. Riza Herdavid, S.T., M.Tr.IP, Zamroni menegaskan keberhasilan penanggulangan TBC tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Menurutnya, TBC berkaitan erat dengan kualitas hidup masyarakat, produktivitas daerah, dan masa depan generasi Bangka Selatan.

“TBC bukan sekadar urusan Dinas Kesehatan atau Puskesmas semata. TBC adalah tantangan bersama yang menyangkut kualitas hidup masyarakat, produktivitas daerah, dan masa depan generasi kita. Oleh karena itu, Kelurahan dan Desa Siaga TBC harus kita jadikan ujung tombak pertahanan kesehatan paling depan,” tegasnya.

“Program ini tidak akan berjalan maksimal jika kita bergerak sendiri-sendiri. Keberhasilan eliminasi TBC membutuhkan dukungan lintas sektor yang solid, nyata, dan terintegrasi,” lanjut Zamroni.

Lebih lanjut, ia berharap pertemuan ini menghasilkan langkah konkret yang dapat dijalankan hingga tingkat desa dan kelurahan. Ia menekankan komitmen semua pihak agar setiap kasus TBC ditemukan sedini mungkin dan seluruh pasien berobat hingga tuntas.

Pertemuan bertujuan menggalang komitmen lintas program dan lintas sektor untuk mengoptimalkan peran kelurahan dan desa sebagai garda terdepan pencegahan penyakit menular, khususnya TBC dan DBD. Komitmen itu menjadi fondasi sistem kewaspadaan berbasis wilayah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Kegiatan ini juga diarahkan meningkatkan kesiapan sumber daya dan kapasitas pemangku kepentingan. Upayanya meliputi percepatan penemuan kasus, memastikan pasien berobat hingga sembuh, menekan penularan secara berkesinambungan, dan menjamin akses layanan TBC yang mudah, cepat, dan berkualitas.

Kampung Bebas Jentik dan Jumantik Mandiri

Pemkab Bangka Selatan menargetkan Kelurahan dan Desa Siaga TBC terbentuk di seluruh wilayah. Pada saat yang sama, forum ini menjadi wadah menyusun rencana aksi Kampung Bebas Jentik berbasis pemberdayaan masyarakat.

Gerakan itu dijalankan lewat Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Mandiri sebagai upaya nyata mencegah penyebaran demam berdarah dengue.

Peserta dan Harapan Sinergi

Kegiatan diikuti jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kantor Kementerian Agama Bangka Selatan, TP PKK, BAZNAS, direktur rumah sakit, para camat, kepala puskesmas, lurah, dan kepala desa se-Bangka Selatan.

Keterlibatan seluruh unsur itu diharapkan memperkuat koordinasi dan kolaborasi mewujudkan Kelurahan/Desa Siaga TBC sekaligus Kampung Bebas Jentik di seluruh wilayah Bangka Selatan.

Melalui sinergi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, dan masyarakat, Pemkab optimistis target eliminasi TBC dan pengendalian DBD tercapai, demi Bangka Selatan yang sehat, tangguh, dan berkualitas.